Malam makin larut…
Saat tubuh panas menari dalam geliat rindu
Berdesah, melepas gelisah
Perlahan sunyi ditingkahi bisik suci
Tubuh panas sejenak menatap
Lalu beranjak merengkuh penuh peluh
Bersatu disudut tanpa deru
Saling merasakan detakan yang kian menghentak
Gemuruh yang semakin gaduh
Getaran yang menjalar liar
Tubuh panas, semakin panas
Menahan deburan nafsu
Meniti tepian bisu
Perlahan…
Bibir saling bertemu
Berpagut dalam buai angin
Bulan temaram melirik,
Erangan memecah sepi malam,
Tubuh panas melekuk dalam isyarat
Ada hasrat yang tersampaikan
Meleleh, hangat..



Winda itu

(sok) tau
(sok) romantis
galak & pelit
takut sama gelap
gampang terharu
keras kepala
sulit diatur


email me: windacandra@yahoo.com

<
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed










 
Friday, April 27, 2007
jumbled question

--Siapa yang pengen kamu peluk sekarang ini?

Si genduuuut yang ud mulai gondorong lagi. Apalagi peyut endutnya!

Sukaaaaa!!!! :)

 

--Lagu terakhir yang didenger?

A million parachutes..tapi kresek kresek dikit soalnya agak error

 

--Cemilan terakhir yang kamu makan & kapan?

Gerry Chocholatos Mamamia Lezattos..kemaren siang bareng amir n meta.

Duh kemakan iklan deh!

 

--Sekarang lagi pake setelan?

Jeans sama kaos! Hahaha kostum andalan nih..abisnya ga punya yang laen siiiy

 

--Make up?

Engga laaaahhh…lebih baik natural aja (barusan liat orang yang pake rias ‘modus malam’.apa gak gatel yah?)

 

--Rambut ala?

Ala? Ala kadarnya kali yeee bo’! Sebahu panjangan dikit..model acak adul..pengen potong lagi sih, tapi takutnya tar mbak Sumi salah potong lagi hiks hiks..

 

--Yang pengen ditemuin tapi belom ketemu-ketemu sampai sekarang?

(Ha? Betewe pertanyaannya kok aneh sih???)

Mmmh..siapa ya? Tetep Arundhati Roy deh kayaknya..mau minta bantuin ngerjain penelitianku, wakakaka

 

--Hal memalukan yang terakhir kali dilakukan?

Balik lagi ke Bul bwt ngambil helm yang ketinggalan, padahal udah telanjur ber say-babay sama Inggra & Priyo. Malu deh…

 

--Duit tinggal berapa?

Huaaaaa!! pertanyaan susah ni..lewaaaaat

 

--Pulsa tinggal berapa?

Percaya ga kalo ku kasi tau? Tinggal Rp. 1 (nha loooh ada yang lebih parah ga?)

 

--Obat-obatan yang terakhir kali dipake?

Mmmh..aku kalo sakit jarang minum obat. Paling banter obat gosok, minyak telon CAP TIGA ANAK kalo malem.

 

-- Lagi pengen pergi kemana?

Kepantai sama temen-temen, trus makan ikan bakar dan berfoto di atas hamparan pasir putih..waaah pasti menyenangkan!

--Orang yang paling dihindari saat ini (yg pastinya gak ada di Frenster dunk!hehehe)?

Bu Rio. Duuhhh nggak enak banget ni belum nyelesaiin props BUSSINOnya. Maap..ampun ibuibu deh Bu Rio..ampuunn

 

--Negara yang pengen dikunjungi?

Nomer satu Jepang dunk, abis itu India, trus Venezuela, trus Prancis, trus Jerman, abis itu Inggris, abis itu US, trus Belanda.

 

--Punya paspor?

Enggak, cuman nyampe punya formulirnya sama sampulnya doank

 

--Suka mie gak?

Suka. apalagi Bakmi Jawa. Indomie rebus telor-nya aa’ burjo juga suka, apalagi ditambah lada bubuk..hmmm yummie

 

--Pernah dipermalukan sama orang lain?

Duuuhh kok pertanyaannya beginian sih..males ah jawabnya.

 

 

Lagian drtd ditanyain mulu.

Kalo ditipi dah dapet duit 600 rebu tuh kalo bisa jawab 5 pertanyaan. Eh, yang ini gratisan….

:P

 


Posted at 11:51 am by winda candra
say something  

 
Monday, April 23, 2007
menengok Taman Sari

Kalau dipikir pikir mungkin agak kelewatan juga. Sekian lama tinggal di kota Jogja aku belum pernah menjejakkan kaki di Taman Sari. Maksudku, kunjungan yang benar-benar kuingat secara mendetail. Dulu sih kabarnya aku pernah kesini, tapi bangunannya masih jelek dan belum dipugar. Lagipula aku masih kecil sekali, jadi banyak hal yang tidak kuingat lagi.

Akhirnya tiba juga kesempatanku untuk menengok bangunan peninggalan sejarah ini. Aih aih, sekarang Istana Air Taman Sari sudah jauh berbeda. Dindingnya yang dahulu-seingatku-berwarna putih kusam dan ditumbuhi lumut yang banyaknya minta ampun, sekarang sudah berganti menjadi warna krem agak merah. Terlihat cerah dan bagus! Kolam pemandian putri raja yang dulu terlihat angker dan menakutkan sekarang sudah lebih terlihat’bersahabat’, malahan hampir mirip kolam renang!

Tapi perasaan singup memang tidak dapat dipisahkan dari Taman Sari. Begitu memasuki Gapura Utama yang dihiasi oleh sepasang arca naga bermahkota, perasaan itu muncul dan tak hentinya mengikuti. Rasa-rasanya bulu kuduk ini kok tak mau turun ya. Padahal kami datang berombongan dan anak-anak kecil itu tak henti-hentinya berceloteh riang.

Oh iya, aku belum memberitahu ya kalau aku datang bersama serombongan anak kecil dan orang tuanya?

Sekolah tempatku mengajar mengadakan mini trip. Rencananya mau ke pasar hewan Ngasem dulu, baru ke Taman Sari, namun karena ada beberapa alasan, akhirnya diputuskan untuk berkunjung ke Taman Sari saja.

Sampai mana aku tadi ya?

Oh iya, Perasaan singup itu bertambah kuat saja begitu kami semua memasuki terowongan menuju Sumur Gumuling. Terowongan yang dibangun dibawah tanah itu terasa begitu panjang, padahal mungkin panjangnya tak sejauh Gua Gong Pacitan. Di beberapa tempat di pinggir terowongan ada semacam ruangan yang gelap dan basah, kabarnya dahulu digunakan untuk bertapa. Oh iya, dahulu terowongan ini ada airnya lho. Semacam sungai yang bisa dilewati dengan berperahu. Hmmm… sepertinya mengasyikkan kalau dibayangkan ya…Disepanjang perjalanan melewati terowongan aku menggandeng seorang anak bernama Cecilia-seorang Indo yang berumur 3 tahunan dan fasih berbahasa Indonesia. Anaknya pendiam sekali lho, irit bicara! tapi mengejutkan juga ketika tiba-tiba ia menunjuk arah depan dan berkata”Bu guru, ada ular besar sekali didepan...” Saya yang blas nggak ngeh cuma berkata “Ah, masa? mana ularnya?Enggak ada kok?” Saya memang tidak mengada-ada, nyatanya memang tidak ada ular besar disana. Tapi dia ngotot bilang “Ada! Itu! Disana…didepan!”

Gleegh… hiii kok aku mulai takuuuttt ya..

Tapi herannya Cecilia tidak takut sama sekali. Biasanya anak kecil kan merasa takut sama ular dan menganggapnya sebagai ancaman (Apalagi ular besar seperti yang dia bilang barusan). Eh, ini bukannya nangis, Cecilia malah sempat tidak ingin digandeng dan berlarian sendiri. Benar-benar aneh! Mungkin saja penampakan ular itu nggak menyeramkan kali yeee…jadinya anak-anak kecil tidak takut.

Setelah perjalanan kami berakhir dipintu Gapura Utama Istana, barulah saya sadar dan mulai berpikir. Apa iya, Cecilia tadi sudah diliatin penunggu Taman Sari yang konon adalah Ular Naga? Saya kok jadi tambah percaya ketika mendengar cerita Stephanie-seorang anak yang lain- yang juga melihat hal yang sama-Ular besar yang meliuk liuk di langit-langit terowongan! Apalagi saya percaya kalau anak-anak kecil lebih sensitif dan peka terhadap hal-hal yang berbau magis dan tidak dapat diliat dengan mata telanjang orang dewasa…

Hmm... 

                                                                                     Jumat, 20 April 2007


Posted at 01:40 pm by winda candra
say something  

belajar dari pasar beringharjo

Sabtu,

Mendung menggantung di langit Jogja, tapi tidak menyurutkan keinginanku untuk menjelajah pasar terbesar di kota ini

Beringharjo, tentu saja.

Berkaos katun dan bercelana pendek, rasanya pas benar kostumku;

Simpel dan tidak gerah.Ah, aku sudah tidak sabar untuk mengayunkan kaki masuk

  

Hari Sabtu ini pasar beringharjo ramai benar. Maklumlah akhir pekan, kebanyakan orang sengaja datang ke pasar untuk membeli stok kebutuhan selama seminggu mendatang, untuk kulakan atau cuma jalan-jalan saja seperti aku. Pokoknya berbagai macam jenis manusia tumplek-blek, menyatu dalam denyutan nadi Beringharjo.

 

Perjalananku dimulai di los-los batik. Aku tersenyum melihat seorang ibu muda yang sedang mengandung dengan gigih merayu calon pembeli. Disinilah mereka mendapatkan uang untuk hidup…sejenak aku berpikir, berapa ya keuntungan yang mereka dapat dalam sehari? Apa sepadan dengan tenaga yang ia dikeluarkan? Terlintas juga rasa kasihan pada calon ibu muda itu dan sedikit rasa kesal pada sang nyonyah juragan …perutnya makin membesar, namun masih bekerja. Apa dia nggak boleh cuti sama juragannya?entah…

Sulit memang untuk menyalahkan…Si ibu muda butuh uang maka ia bekerja, dan sang juragan juga tentunya akan kerepotan bila si mbak cuti kelamaan...

 

Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari atap pasar. Ternyata hujan turun dengan lebatnya, menciptakan suara yang sangat berisik dan sedikit…mengerikan. Seperti triplek yang dipukul-pukul pake batu. Namun, tak ada yang berubah di dalam pasar. Orang orang tetap mengacung2kan dagangannya dan para calon pembeli masih menawar seperempat dari harga yang ditawarkan. Yang berbeda cuma Yu-Yu penjual gudheg dan Simbah-Simbah penjual sayuran saja yang pindah karena tempatnya tadi basah ketampu air hujan.

 

Padahal baru sebentar aku tiba dipasar ini, dan baru seperlima-nya saja yang kujelajahi tapi kakiku sudah letoy, dan kerongkongan tidak bisa berkompromi. Aku haus tak terkira. Untung saja aku membawa air mineral. Glek..glek..segaarr. Aku memutuskan untuk duduk sebentar dibawah tangga didekat penjual es teh- jasmine tea kalo di menu restoran- dan menikmati orang yang berlalu lalang dihadapanku, sibuk dengan apa yang mereka lakukan. Kegiatan ini ternyata sangat menyenangkan lho…apalagi melihat segerombolan mas-mas pengamen yang berusaha berdandan dan berlagak layaknya artis terkenal -hmm usahanya boleh juga dihargai tuh-, aku tersenyum-senyum dikulum melihat tingkah laku mereka. Apalagi ketika gerombolan itu menggoda seorang mbak yang tinggi semampai dengan rambut agak merah-mahakarya Johnny Andrean sepertinya-terurai. Agak2 menggelikan…Si mbak saking ketakutan diganggu sama para artis jalanan yang berkostum hampir seragam itu, lari terbirit-birit masuk ke dalam salah satu los dan mencari perlindungan disana.  

Tiba-tiba aku ingat kalau harus selalu waspada bila berada dalam pasar segede ini, kabarnya copet disana sini bo’. Mungkin itu juga yang membuat pemerintah kabarnya mulai memikirkan pemasangan CCTV di beberapa titik rawan. Aku meraba-raba bagian luar saku celanaku. Ahhh..lega, dompet dan HP masih ada ditempatnya. Karena kupikir sudah kelamaan duduk, aku beringsut dari tempat duduk yang tidak nyaman sama sekali itu, mau melanjutkan penjelajahanku.

 

Belum lagi aku berdiri, tiba-tiba kuterhenyak melihat seorang bapak tua sedang memanggul beras yang kelihatannya sangat berat. Dia berjalan pelan-pelan menyusuri lorong pasar yang saat itu semakin ramai dengan orang–orang yang berteduh dari hujan. Kelihatannya beras itu beratnya sekuintal, atau mungkin lebih…pandanganku pun mengikuti sampai dimana bapak itu berhenti dan menurunkan beban di punggungnya. Aku terkejut ketika mendapati badannya yang sekarang tanpa beban itu, tetap membungkuk. Ah, waktu dan beban yang berat telah berhasil memaksa tulang belakangnya tidak lagi dapat tegak. Air mataku hendak merebak, namun kuurungkan tangisku. Kuakui aku memang orang yang mudah sekali terharu, apalagi pada saat-saat seperti ini ketika aku menyadari bahwa setiap orang itu memang digariskan untuk punya peran masing-masing; dan yang perlu dilakukan hanyalah melakonkan peran itu dengan sebaik-baiknya, dengan rasa nrimo, tidak menuntut banyak dan mengeluh. Bapak itu, dengan matanya yang lugu, adalah seseorang dari sekian ribu manusia yang ada dipasar ini; yang bekerja keras dan tak kenal lelah untuk bertahan hidup. Aku membayangkan kira-kira ia tinggal dimana dan berapa jumlah anaknya dan apakah kebutuhan mereka tercukupi dengan penghasilan bapak itu. Umurnya mungkin tidak selisih begitu banyak dari bapakku, namun hidup yang keras telah memperbanyak kerutan di wajahnya, hingga tampak beberapa tahun lebih tua dari umurnya. Pucat dan letih...

 

Aku…dimana aku?

Aku tetap disini, ditempatku tadi duduk, dan sekarang berdiri. Tidak tahu apa yang akan kulakukan. Detik itu kusadar begitu banyak hal yang selama ini terlewatkan dari kehidupan kampusku, rutinitasku…nilai-nilai akademis, yang kurasa jauh dari kehidupan yang sesungguhnya.

Seperti mimpi.

Mungkin terlalu filosofis, namun dipasar inilah kurasa, hidup yang sesungguhnya.

 

Senyuman manis dari Mbak penjual aksesori rambut membuyarkan lamunanku. Dengan ramah dia menawariku jepit rambut yang katanya model paling baru- keramahan khas Nyogja- tapi aku bilang, mboten mbak, maturnuwun…menolak dengan halus supaya aku tidak merasa bersalah atas keramahannya.

 

Kulanjutkan pengembaraanku selama 2 jam. Aku sudah mendapatkan apa yang aku cari, yang hanya ada di Pasar Gedhe Beringharjo-setidaknya menurutku. Semacam akar-akaran yang biasanya untuk jamu dan beberapa jajan pasar yang langka. Setelah itu aku memutuskan untuk pulang.

 

Hal terakhir yang membuatku terhenyak adalah pemandangan yang kulihat sebelum aku menembus hujan rintik-rintik untuk mengambil mobil diparkiran. Seorang Simbah yang sudah sangat tua, mungkin 90an mungkin juga sudah 100tahunan lebih terlihat menggendong sisa dagangan dipunggungnya yang sudah renta itu. Tak terlihat rasa letihnya setelah berdagang seharian, malahan ia sempat bercanda dengan seorang tukang becak yang kakinya bengkak karena tersandung pinggir pintu pendopo pasar. Mereka tertawa lepas. Mengakhiri berdagang hari ini dengan perasaan bahagia, dan bersiap lagi besok pagi untuk memulai hal yang sama. Ah, Simbah itu…membuatku teringat pada almarhumah Simbahku yang semasa hidupnya menghabiskan hari-harinya dengan berjualan dipasar. Aku menaruh rasa hormat yang tinggi pada orang-orang seperti mereka, yang bekerja keras dan tidak suka menggantungkan hidupnya pada orang lain, para perempuan kuat yang tidak sekedar menengadahkan tangannya memohon belas kasihan orang-orang.

 

Aku pulang, pulang kembali pada kehidupan mahasiswiku yang penuh tugas dan menghabiskan berlembar-lembar kertas. Pikiranku terus tertuju pada rangkaian kejadian tadi. Seperti memutar film saja (aku suka sekali frase ini). Teringat janji bertemu dengan seseorang, akupun menghentikan kesibukanku mengetik…

 

Sayang, aku datang...

 

Jogja

Sabtu, 14 April 2007


Posted at 01:36 pm by winda candra
say something  

 
Saturday, March 17, 2007
my journal

Monday, March 5, 2007

 

Lagu Honesty-nya Billy Joel mengalun dari speaker.

Aku sedang mengetik tugas kuliah yang menumpuk.

Tiba tiba saja aku merasa terenyuh, sedih..

..aku merasa seolah lagu itu membangkitkan kembali kenangan lama.. tapi aku tak bisa mengingat dengan pasti tentang apa…yang jelas, mungkin itu dulu…dulu sekali…

 

Hal yang sama pernah terjadi sebelumnya...

ketika mendengar Home nya Michael Buble, atau Goodbye My Lover-nya James Blunt...

Tanpa sadar aku jadi menangis

Menangis saja,

Aku tak ingat itu tentang apa..

 

Nada yang terdengar berbeda saat membicarakan sebuah nama?

Ketika kau duduk dan menatap wajah seseorang lekat-lekat namun bukan dia yang kaupikirkan?

Tersentak ketika seseorang mengajakmu berbicara tentang sesuatu yang membangkitkan kenanganmu pada seseorang yang telah lalu?

Ketika kau bertemu dengan orang yang telah kautinggalkan, kau merasa takut dan aneh, dan sungkan..dan mati-matian ingin menghindari dan tak ingin terlihat saat itu kau sedang bersama orang lain?

Ketika kau tak bertemu dengan orang yang telah kautinggalkan, kau berharap akan bertemu dengannya di belokan?

 

 

Ah seandainya saja aku tahu persis apa yang kuingat…

Sedih sekali aku tak bisa mengingat, justru kenangan yang saat ini ingin sekali aku ingat...

 

Merenung?

 

Itukah yang seharusnya kulakukan..?

mencoba memanggil kembali kenangan yang hilang dan terlupakan…

 

atau mungkin masih ada? di dasar yang paling dalam..

 

oh ya, saking penasarannya..

penasaran saja.

sengaja kubiarkan suara lembut Michael Buble mengalun setiap kuhendak mematikan laptop ini…

 

siapa tahu suatu saat aku akan ingat..


Posted at 12:08 pm by winda candra
Comment (1)  

 
Tuesday, January 16, 2007
Dia sendirian dan tersedu

Dia sendirian dan tersedu

 

Memang

bukan salahnya,

Bila tak punya pintu untuk diketuk,

Pun senyum penuh keprihatinan atas duka derita

Bukan salahnya

Dia baru sadar,

 

Dia tak punya siapa-siapa


Posted at 12:42 pm by winda candra
Comment (1)  

Blog dan Apa yang Harus Ditulis?

            Saya sering sekali menemui berbagai masalah ketika ingin meng-upload coretan coretan saya ke Blog. Rasa malu dan tidak percaya diri adalah yang terbesar. Pernah suatu kali saya tidak jadi menampilkan sebuah tulisan dalam blog, padahal dari rumah saya sudah bertekad membaginya dengan para Blogger. Saya merasa tidak cukup pandai dan sangat sok tahu ketika membahas atau mencoba mengkritik hal yang sedang menjadi perbincangan khalayak ramai di dunia maya, bahkan untuk sekedar berkomentar! Walhasil, cukup banyak tulisan yang hanya tersimpan rapi dalam folder komputer dirumah (bahkan diberi password!)

Dari pengalaman saya berjalan-jalan ke beberapa blog, rata-rata pemiliknya membuat sesuatu yang serius, yang layak untuk didiskusikan. Dari mulai tulisan bernada kritik atas tindakan politik penguasa, pembantaian terhadap film-film terbaru yang dinilai tak layak, cerita yang menyayat-nyayat hati dan berdarah-darah, resensi buku Baik & Bagus, sampai desain-desain kreatif dan aransemen musik bikinan sendiri. Pokoknya, rata-rata isi blog mereka itu BERMUTU! (setidaknya menurut saya). Jujur saja, hal itu mungkin menjadi salah satu pemicu ketidakpedean saya.

Beberapa dari pembaca paling bakalan bilang "Ih, ni orang kok aneh sih, liat blog yang bagus2 bukannya terpacu untuk menyaingi, eh malah gak pede". Anda tidak salah, memang begitulah yang saya rasakan. Membayangkan ditertawakan dan dibahas dalam diskusi-diskusi para orang pintar itu rasanya kok sakit banget… kebayang gak sih 300 kilometer dari tempatmu tertidur nyenyak ada seseorang yang tadi siang tak sengaja terdampar di rumah-maya-mu sedang asyik bercerita dengan teman-temannya,"Eh lu tau gak, gue tadi abis nemu blog yang payah banget! Yang punya blog kayaknya kepedean…lu tau gak apa yang dia tulis?..blablabla….gila ya tu orang, gak punya malu, cuman kayak gitu kok di-upload diblog.". Saya tidak begitu menyalahkan si orang itu, mungkin dia menganggap segala sesuatu yang ditulis di Blog haruslah hal yang lagi-in, kritis, membangun, bagus lagi bisa menimbulkan decak kagum dan pujian dari para pembaca, setidaknya sesuatu yang umum geto deeeeech…tulisan cekeremes alias cengcengpo tidak termasuk dalam hitungan, hanya pantas masuk kedalam tong sampah pribadinya dirumah. Namun, apa tidak seharusnya dia bisa lebih bijaksana dalam menghadapi kenyataan bahwa ada yang memperlakukan blog sebagai jurnal atau diary yang berisi kegiatan sehari-hari atau mungkin perasaan yang sedang bergejolak, seperti pada saya misalnya. Bukankah itu juga tidak salah??? Toh juga tulisan itu terpampang di blog pribadinya, di alamat pribadinya! (waduh, pembenaran untuk segala ketidakpedean saya nih)

 

Ah, sekali-sekali saya akan menulis yang 'serius'… 


Posted at 12:38 pm by winda candra
Comment (1)  

baru saja baca-Life of Pi

Buku ini berkisah tentang seorang anak India berumur 16 tahun yang menjadi satu-satunya korban selamat tenggelamnya kapal Tsimsum di Samudera Pasifik. Terkatung-katung dalam sekoci bersama seekor harimau Royal Bengal yang beratnya 225 kilogram selama 7 bulan memaksanya melakukan apapun untuk mempertahankan hidup.

  

Gaya penceritaannya bagus dan sangat wajar sehingga seakan-akan pembaca larut dalam kejadian yang sedang berlangsung. Bergulirnya cerita juga dirangkai dengan sangat apik sehingga membuat pembaca tidak sabar untuk membuka halaman berikutnya untuk mengetahui apa yang terjadi pada tokoh-tokohnya.  Namun di beberapa bagian terlihat terlalu memaksa, dialog ataupun soliloquy tokoh utama terlalu berat. Kata-katanya sangat tidak anak-umur-enambelas-tahunan. Apalagi ketika Pi membahas masalah agama dan tuhan. Coba kalimat2 yang diucapkan diramu lebih sesuai dengan umur Pi, pasti bacanya lebih nyaman.

 

            Oh iya, saya tidak menemukan hal yang dijanjikan oleh si penulis cover belakang buku yang mengatakan bahwa ”setelah membaca buku ini ada akan menjadi lebih percaya terhadap tuhan”.

 

Yang saya dapatkan adalah sebuah petualangan luar biasa seorang anak yang cerdas dan tahu bagaimana memanfaatkan keadaan dan apa yang dia punya. Juga rasa bingung yang muncul pada akhir cerita. Segera setelah saya menutup halaman terakhir buku ini, muncul satu pertanyaan besar “Yang benar yang mana sih?” Versi yang ada hewan-hewannya atau yang tanpa hewan-hewan. Saya belajar untuk tidak langsung percaya pada apa yang saya baca (atau jangan jangan mana yang benar itu tidak penting ya???). Kalimat yang lebih cocok adalah ”Buku ini membuat anda teringat pada sebuah tag iklan:  gak semua yang lo denger itu bener..” wakakakakkaka

Posted at 12:31 pm by winda candra
Comment (1)  

 
Monday, January 08, 2007
kemana ya?

wah, saya sekarang merasa agak lain kalo' dateng ke kampus.gak seperti beberapa waktu yang lalu ketika masih jadi mahasiswa tingkat pertama-kedua. Sekarang sudah gak ada yang namanya nongkrong dan ngobrol di kampus. bawaannya juga jadi serius melulu...

saya merasa tidak lagi mengenali kawan kawan yang dulunya sering bergaul dan nggosip bareng.

obrolan yang terjadi cuman sepatah dua patah kata saja, itupun terjadi disela-sela khotbah dosen. sekedar basa basi nggak jelas.

mungkin semua ini normal normal saja..hanya perlu proses.

hehehe sebenarnya itu juga bukan masalah yang cukup signifikan sih, cuman aneh aja..dan nyadarnya kok ya baru sekarang.

Btw, sekarang nih ya, kalau tidak ada jadwal kuliah, saya tetap dateng ke kampus, ke loker dan ngenet gratis. kadang ditemani si pria gendut, kadang juga sendirian. malah, semakin kecanduan aja nih jalan jalan di dunia maya.


Posted at 11:33 am by winda candra
Comment (1)  

 
Monday, January 01, 2007
sotoy=mahal

Saya telah melakukan kesalahan yang amat sangat bodoh!

Karena ketidaktahuan dicampur dengan kesotoy-an, saya harus membayar mahal.

 

 

Saya baru saja punya laptop. Laptop ini menggunakan teknologi baru yang windowsnya sudah otomatis tertanam pada waktu diproduksi. Dilengkapi dengan hidden recovery system di salah satu drive sehingga ketika suatu saat system mengalami error serius, tinggal dibalikin ke format awalnya saja, tanpa perlu pake CD drive.  

 

Bodohnya, saya tidak tahu

(atau sebenarnya hal ini bisa dihindari kalau saja saya membaca lengkap seluruh user guide nya)

 

Saat itu yang terlintas dipikiran saya hanya: bagaimana agar drive D di laptop itu bisa digunakan. Masalahnya, drive itu tidak bisa dibuka dan dipakai untuk menyimpan file. Ketika saya coba buka lewat ACDSee, hanya ada gambar gembok kunci dan tulisan recovery.  Coba tebak apa yang saya lakukan?

 

Tanpa bertanya tanya pada sang ahli dan berkonsultasi dengan pakar, drive D itu saya format. Gubraaak sekali bukan? Selain itu saya menambah program Deep Freeze karena saya pikir, itu sangat penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan ketika laptop terkoneksi ke internet.

 

Paginya, saya mengalami shock yang amat hebat.  Saya coba buka2 kembali user guide yang masih tersimpan rapi dalam tas. Saya mencoba menemukan CD drive-nya. Tapi yang saya dapati hanyalah sebuah kertas yang ada gambar CD-nya trus ada keterangan seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Jantung saya serasa berhenti, mencoba me-recall kejadian tempo hari dan perlahan saya mulai menyadari kebodohan (atau ketolol-an?) itu.

 

SAYA TELAH MENGHAPUS RECOVERY SYSTEMNYA!!!!

 

Rasa panik mulai menjalar disekujur tubuh. Sepanjang hari saya dihantui perasaan tidak tenang karena saya sadar bahwa hal ini adalah masalah yang amat sangat serius!!!

 

Semoga saya (dan anda!) bisa belajar dari pengalaman saya ini…

 


Posted at 03:39 pm by winda candra
Comment (1)  

 
Wednesday, November 08, 2006
sedikit komentar

cinta terkadang seperti surya
yang hanya indah saat terbit dan terbenam
tapi paling tidak kita bisa rasakan hangatnya

saya baca di salah satu blog

Bagus ya....:)


Posted at 08:51 am by winda candra
say something  

Previous Page Next Page